DESA TUNGGULO MENUJU DESA KONSERVASI

Sebagai salah satu desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), serta merupakan benteng bagi sebagian kawasan tersebut, maka Desa Tunggulo perlu mendapat perhatian yang lebih. Oleh sebab itu, Balai TNBNW telah melaksanakan sebuah kegiatan Pembentukan Masyarakat Desa Konservasi (MDK) pada desa tersebut. Mewujudkan sebuah desa konservasi membutuhkan usaha yang intensif serta komitmen yang kuat dari semua pihak. Terpilihnya desa Tunggulo sebagai desa konservasi merupakan bentuk komitmen Balai TNBNW dalam meningkatkan peran serta masyarakat, menjaga kelestarian kawasannnya, sekaligus sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada disekitar hutan melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Kegiatan-kegiatan terkait Pembangunan Kelembagaan dapat ditempuh dengan membentuk kelembagaan / kelompok tani. Setelah kelembagaan terbentuk, selanjutnya kelembagaan, administrasi kelembagaan, serta sarana dan prasarana sebagai pendukung kelembagaan tersebut dikembangkan melalui Pengembangan Kelembagaan. Pembentukan kelompok tani di Desa Tunggulo dilakukan karena pada desa tersebut belum memiliki kelompok tani yang permanen. Berkenaan dengan hal itu, Balai TNBNW memfasilitasinya melalui kegiatan Pembentukan Masyarakat Desa Konservasi,  sehingga terbentuklah Kelompok Tani Agrowisata Wana Lestari, yang memiliki akte notaris. Pembentukan kelompok tani bertujuan untuk memberikan dorongan dan semangat bagi kelompok tani, sekaligus menegaskan bahwa Kelompok yang dibentuk merupakan kelompok tani yang siap maju, bukan sekedar kelompok tani yang hanya melakukan kegiatan pada saat bantuan keproyekan saja.
Adanya akta pendirian kelompok harus mampu mendorong pengurus dan anggota kelompok tani untuk selalu aktif dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya, demi mewujudkan kesejahteraan bersama.


Penguatan kapasitas kelembagaan dapat ditempuh melalui pelatihan sekaligus praktek mengenai metode PRA (participatory rural appraisal) bagi anggota kelompok tani dan masyarakat Desa Tunggulo. Pelatihan dan praktek PRA ini dilaksanakan dalam rangka menggali informasi mengenai potensi dan permasalahan yang ada di Desa Tunggulo, yang mana informasi tersebut dibutuhkan sebagai bahan penyusunan Program Pengembangan Desa menuju Desa Konservasi.


Setelah pelatihan dan praktek PRA dilaksanakan, selanjutnya masyarakat dibimbing dalam membuat program kegiatan, yang mana kegiatan tersebut berorientasi pada pengembangan dan pemberdayaan masyarakat menuju Masyarakat Desa Konservasi. Program kegiatan yang telah disusun, selanjutnya  dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana Usaha Kelompok (RUK).


Program kegiatan yang berbentuk RUK disusun dan disepakati oleh kelompok masyarakat, Balai TNBNW, dan perangkat desa setempat. Kelompok Tani yang telah terbentuk harus memiliki Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART)  sebagai pedoman dalam melaksanakan berbagai kegiatanya.  AD/ART disusun oleh kelompok tani itu sendiri berdasarkan kesepakatan bersama anggota kelompok.


Untuk meningkatkan motivasi kelompok tani serta mempermudah mereka dalam melakukan tugas keadministrasiannya, maka pemerintah memberikan paket bantuan terkait kebutuhan dimaksud. Berkenaan dengan kualitas sumber daya manusia, kelompok tani harus memiliki pengetahuan yang luas demi kelancaran dalam melakukan berbagai kegiatannya, sehingga bisa meningkatkan mereka demi kesejahteraan anggota dan keluarganya.

Pembentukan desa konservasi sebagai wujud pemberdayaan masyarakat sekitar hutan merupakan langkah awal dalam meningkatkan peran serta masyarakat dalam mengelola hutan. Metode PRA sebagai upaya penggalian gagasan dan kehendak masyarakat dalam upaya merealisasikan kebutuhan dan keinginan adalah sangat relevan dengan pelaksanaan program Pembentukan Masyarakat Desa Konservasi. Balai TNBNW hanya sebagai fasilitator saja, dalam pelaksanaanya masyarakatlah yang menentukan.

Tersusunnya Program Pembangunan Jangka Menengah (lima tahun) yang dituangkan dalam RPJM Desa, serta terbentuknya Kelompok Tani Agrowisata Wana Lestari sebagai pelopor pembangunan di Desa Tunggulo yang memiliki akta pendirian dari notaris, merupakan hasil nyata dari pelaksanaan kegiatan Pembentukan Masyarakat Desa Konservasi di Desa Tunggulo. Hal ini tentu akan menjadi nilai positif bagi semua pihak dalam rangka mengembangkan kelompok tani demi mencapai kesejahteraan kelompok tani itu sendiri dan masyarakat pada umumnya.

Program  kegiatan bidang kehutanan yang telah disusun dan disepakati bersama, diusulkan oleh lembaga desa kepada Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Kementerian Kehutanan. Sementara program kegiatan non kehutanan diusulkan oleh lembaga desa kepada sektor terkait melalui Kementerian Bidang Kesejahteraan Rakyat dan atau Pemerintah Daerah setempat. Setelah program kegiatan berjalan, maka kegiatan Monitoring dan Evaluasi serta Pelaporan menjadi tahapan kegiatan yang tidak terpisahkan. Penulis : Aris setyawan A.Md.

Pencarian
Bahasa
Indonesia English
Video Terkini
Wisata Alam

PEMBINAAN HABITAT MALEO DI AREAL TAMBUN
Selain tindakan pengamanan kawasan yang harus diperketat, pemulihan habitat dan populasi burung Maleo (Macrocephalon maleo) yang ada di kawasan TNBNW sangat perlu dilakukan. Upaya pemulihan tersebut dapat dilakukan melalui Kegiatan Pembinaan Habitat Maleo secara berkala.Pembinaan Habitat Maleo di areal Tambun,…
» selengkapnya

INVENTARISASI BABIRUSA di SPTN I SUWAWA
Dengan Latar Belakang Populasi Babirusa yang diyakini terus mengalami tekanan sebab perburuan dan kerusakan habitat sehingga populasi Babirusa di alam terus menurun, maka kondisi ini harus segera dibenahi dengan melakukan tindakan konservasi yang tepat antara lain dengan melakukan pembinaan habitat…
» selengkapnya

Kategori
Lokasi Pengunjung
Banner
Program Kegiatan Bogani Nani Wartabone
Lihat Peta Bogani Nani
video