FAKTOR PENDORONG PERAMBAHAN DI RESORT MAELANG, SPTN WIL.III MAELANG Oleh : Abd Rajab Datunsolang, S.Hut



Desa Ayong merupakan salah satu desa penyangga kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), yang secara pengelolaan kawasan masuk dalam resort Maelang, SPTN Wilayah III Maelang. Terletak di Kecamatan Sang Tombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow, Propinsi Sulawesi Utara. Dengan wilayah seluas 345,5 Ha (Profil Desa Ayong Tahun 2010), Desa Ayong berbatasan dengan  Desa Babo (sebelah barat), Desa Buntalo (sebelah timur), laut sulawesi (Sebelah Utara), dan Kawasan TNBNW (sebelah selatan).
 
Desa Ayong merupakan salah satu desa yang memiliki hubungan langsung dan saling mem-pengaruhi dengan kawasan TNBNW, serta memiliki kerawanan yang tinggi terhadap kelestarian kawasan tersebut, sehingga peluang terjadinya  tindak pidana kehutanan sangat besar baik dalam hal penebangan liar maupun perambahan kawasan.  Hal ini terbukti dengan maraknya perambahan kawasan di resort Maelang yang berbatasan dengan Desa Ayong.  Beberapa penyebab terjadinya perambahan tersebut antara lain :

1)    Faktor Umur
Faktor umur merupakan salah satu hal yang sangat berpengaruh pada kemampuan fisik seseorang dalam melaksanakan aktifitas peram-bahan di kawasan TNBNW, dengan asumsi bahwa semakin tua umur seseorang, maka aktifitas yang di lakukan akan semakin menurun. Sedangkan umur yang relatif muda, maka segala bentuk aktifitas akan bisa dilakukan dengan lebih optimal.

Berdasarkan hasil quisioner, dimana yang menjadi responden adalah para perambah kawasan TNBNW, menyatakan bahwa umur responden berkisar antara 29-54 tahun. Kisaran umur tersebut merupakan kisaran umur produktif. Sebagaimana dikemukakan oleh (Soehardjono dan Patong, 1995 dalam Dilapanga, 2004), bahwa umur produktif berkisar antara 15-54 tahun, sedangkan umur 55 tahun ke atas dan 15 tahun kebawah dikategorikan sebagai umur yang non produktif.


2)    Faktor Pendidikan
Faktor pendidikan merupakan salah satu penentu dalam membentuk pola fikir, yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan pokok dari suatu individu. Selain itu, faktor pendidikan sangat berpengaruh dalam melakukan suatu kegiatan,  tidak terkecuali melakukan kegiatan untuk mempertahankan hidupnya. Tapi terkadang tingkat pendidikan terabaikan manakala didesak dengan pemenuhan kebutuhan pokok dari suatu individu, padahal yang menjadi harapan adalah semakin tinggi pendidikan yang dimiliki berarti semakin banyak ilmu yang didapat, sehingga membuat seseorang lebih terampil dan matang dalam melakukan pekerjaan yang digelutinya.

Berdasarkan hasil kuisioner, tingkat pendidikan responden yang melakukan perambahan hutan pada umumnya hanya tingkat Sekolah Dasar (SD), hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden sangat rendah, sehingga  berpeluang besar melakukan aktivitas di dalam kawasan TNBNW.
   
3)    Pekerjaan Pokok
Kegiatan penebangan liar dan perambahan di kawasan TNBNW telah menopang kesejahteraan para perambah di Desa Ayong, dan persepsi ini melekat pada mereka walaupun dampak negatifnya telah diketahui dan dirasakan. Jenis mata pencaharian merupakan salah satu faktor yang mendukung kebutuhan seseorang dalam mencapai keperluan hidupnya. Dalam memenuhi kebutuhan hidup, seseorang harus berusaha mengelola bentuk usahanya, seiring dengan hal tersebut, pekerjaan pokok akan meningkatkan kesejahteraannya melalui pendapatan yang diperolehnya.


4)    Faktor Keluarga
Besarnya tanggungan keluarga sangat berpengaruh pada aktivitas kepala keluarga. Suatu keluarga yang memiliki jumlah tanggungan besar harus diimbangi dengan pendapatan yang seimbang. Hal ini merupakan tantangan bagi kepala keluarga untuk bisa mengoptimalkan kegiatan usahanya, guna menunjang kebutuhan keluarga. Semakin banyak jumlah tanggungan keluarga, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul oleh kepala keluarga, guna membiayai hidup anggota keluarganya. Berdasarkan tabel tersebut, dapat diasumsikan bahwa kegiatan perambahan hutan dalam kawasan TNBNW memiliki peluang yang cukup besar. Jika tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan, dimana kebutuhan dan tuntutan setiap anggota keluarga semakin tinggi, maka ketika status perkawinan “sudah kawin” meningkat, potensi  perambahan di kawasan TNBNW akan terus berlanjut, sebab hal ini memicu setiap anggota masyarakat untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menurunnya fungsi dan daya dukung hutan khusus-nya di kawasan TNBNW disebabkan oleh  banyaknya kegiatan yang berlebihan yang dilakukan masyarat disekitarnya tanpa ada upaya konservasi, sehingga yang ditimbulkan tidak hanya kerusakan hutan, tetapi mempengaruhi juga kehidupan masyarakat disekitar-nya. Oleh sebab itu, salah satu upaya yang harus dilakukan dalam rangka melestarikan kawasan TNBNW adalah dengan memperhatikan dan mem-bantu meningkatkan sosial ekonomi mereka melalui berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.


Sumber Pustaka,
Hatono. 2008. Mencari Bentuk Pengelolaan Taman Nasional di Indonesia dalam Tinjauan Reflektif Praktek Pengelolaan Taman Nasional.

Pencarian
Bahasa
Indonesia English
Video Terkini
Wisata Alam

PEMBINAAN HABITAT MALEO DI AREAL TAMBUN
Selain tindakan pengamanan kawasan yang harus diperketat, pemulihan habitat dan populasi burung Maleo (Macrocephalon maleo) yang ada di kawasan TNBNW sangat perlu dilakukan. Upaya pemulihan tersebut dapat dilakukan melalui Kegiatan Pembinaan Habitat Maleo secara berkala.Pembinaan Habitat Maleo di areal Tambun,…
» selengkapnya

INVENTARISASI BABIRUSA di SPTN I SUWAWA
Dengan Latar Belakang Populasi Babirusa yang diyakini terus mengalami tekanan sebab perburuan dan kerusakan habitat sehingga populasi Babirusa di alam terus menurun, maka kondisi ini harus segera dibenahi dengan melakukan tindakan konservasi yang tepat antara lain dengan melakukan pembinaan habitat…
» selengkapnya

Kategori
Lokasi Pengunjung
Banner
Program Kegiatan Bogani Nani Wartabone
Lihat Peta Bogani Nani
video