INVENTARISASI BABIRUSA di SPTN I SUWAWA

Dengan Latar Belakang Populasi Babirusa yang diyakini terus mengalami tekanan sebab perburuan dan kerusakan habitat sehingga populasi Babirusa di alam terus menurun, maka kondisi ini harus segera dibenahi dengan melakukan tindakan konservasi yang tepat antara lain dengan melakukan pembinaan habitat dan pencegahan perburuan terhadap Babirusa. Salah satu kunci utama keberhasilan konservasi jenis satwa liar termasuk Babirusa adalah ketersediaan data populasi yang memadai (mutakhir). Keputusan untuk melakukan penambahan atau pengurangan populasi Babirusa sangat tergantung pada data awal populasi jenis satwa liar yang akan dikelola. Salah satu kegiatan yang diharapkan dapat menghasilkan data awal populasi satwa liar dalam kawasan TNBNW adalah inventarisasi.
Kegiatan Inventarisasi tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan informasi mengenai populasi dan habitat babirusa di TNBNW dengan tujuan agar data jumlah populasi Babirusa,  data struktur populasi Babirusa, informasi mengenai keadaan habitat Babirusa sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan kebijakan konservasi spesies Babirusa dapat diperoleh. Metode yang pernah digunakan dalam inventarisasi Babirusa tahun 2010 lalu adalah metode strip transek. Batas radius pengamatan tersebut berdasarkan lebar transek yang dalam penelitian ini ditentukan 100 meter atau 50 meter diukur ke arah kiri-kanan garis transek.  Luas wilayah studi adalah 200 Ha. Luas populasi contoh (intensitas sampling) ditentukan sebesar 10% dari luas populasi statistik.  Data yang dicatat untuk keperluan pendugaan kepadatan berdasarkan metode strip transek adalah jumlah kelompok dan ukuran kelompok (jumlah individu dalam kelompok).  Perhitungan nilai dugaan kepadatan populasi babirusa menggunakan persamaan probability proportional to size sampling (Caughley & Sinclair, 1994).  
Dalam inventarisasi Babirusa tahun 2010, tidak dijumpai Babirusa secara  langsung, yang dijumpai hanya bentuk-bentuk perjumpaan tidak langsung seperti jejak Babirusa, (6 titik di Lombongo dan 17 titik di Pinogu) pada ketinggian 303 – 1.253 meter dari permukaan laut; rangka Babirusa, dan kubangan Babirusa. Berdasarkan hasil inventarisasi yang diperoleh, perhitungan populasi babirusa di SPTN Wilayah I Suwawa dan di dalam kawasan TNBNW tidak dapat dilakukan, hal ini berkaitan dengan metode inventarisasi yang digunakan, metode strip transek hanya dapat digunakan untuk menghitung populasi suatu satwa jika ada data perjumpaan langsung dengan satwa yang ditargetkan selama pengamatan. Metode ini tidak dapat digunakan untuk menentukan populasi suatu satwa hanya berdasarkan pada data perjumpaan tidak langsung seperti jejak, feses, kubangan, kerangka, dan lain-lain. Ada beberapa metode perhitungan yang sering digunakan untuk menentukan populasi suatu satwa berdasarkan data perjumpaan tidak langsung seperti data jejak, namun umumnya metode ini digunakan untuk jenis-jenis satwa dari golongan mamalia besar (Alikodra, 2002).
Penggunaan metode perhitungan populasi berdasarkan jejak pada jenis-jenis satwa dengan ukuran jejak yang relatif kecil akan menimbulkan konsekuensi perhitungan populasi menjadi over estimate atau under estimate. Atas dasar pertimbangan inilah, maka walaupun selama pengamatan diperoleh data perjumpaan tidak langsung dengan babirusa, perhitungan populasi tidak dapat dilakukan. Data perjumpaan tidak langsung yang diperoleh selama pengamatan hanya digunakan untuk menggambarkan bahwa di kedua lokasi yang ditetapkan sebagai lokasi inventarisasi masih terdapat populasi babirusa. Namun demikian hasil ini tidak dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi babirusa yang ada di dalam kawasan TNBNW.

Penyebab ketidakberhasilan Perjumpaan langsung dengan Babirusa

Pemilihan lokasi inventarisasi babirusa yang dilakukan di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Suwawa hanya ditetapkan berdasarkan informasi sekunder yang diperoleh sebelum dilakukannya inventarisasi, sehingga patut diduga bahwa pemilihan lokasi pelaksanaan inventarisasi babirusa ini tidak dilaksanakan pada lokasi yang semestinya. Idealnya sebuah inventarisasi yang menggunakan metode sampling atau metode dengan penarikan contoh harus di dahului dengan survey pendahuluan sebagai dasar dalam menentukan teknik penarikan contoh atau pemilihan lokasi inventarisasi. Kemudian jangka waktu pengamatan babirusa di SPTN I Suwawa selama 15 hari terlalu pendek untuk suatu kegiatan inventarisasi satwa langka. Waktu efektif untuk melakukan pengamatan adalah 8 – 10 hari. Sisa waktu yang lain habis untuk mencapai lokasi inventarisasi. Faktor lain yang dapat menyebabkan rendahnya peluang perjumpaan satwa target selama inventarisasi adalah minimnya pengetahuan mengenai satwa yang ditargetkan khususnya pengetahuan tentang perilaku. Hal ini juga yang kemungkinan besar menjadi penyebab ketidakberhasilan dalam mendapatkan data perjumpaan langsung dengan babirusa selama pengamatan berlangsung.

Perjumpaan tidak langsung.

Ada beberapa hal menarik terkait lokasi perjumpaan tidak langsung dengan babirusa khususnya lokasi dimana jejak ditemukan. Lokasi penemuan jejak babirusa berada pada ketinggian 303 – 1.253 mdpl. Hal ini menunjukkan bahwa ketinggian tempat bukan merupakan faktor pembatas bagi babirusa dalam memilih lokasi tertentu sebagai habitatnya. Walaupun data yang diperoleh tidak bisa menjelaskan preferensi habitat babirusa secara pasti, namun data ini setidaknya memberikan gambaran bahwa babirusa tidak memilih habitat khusus berdasarkan ketinggian tempat. Hal ini senada dengan pendapat Reksowardoyo (1995) yang menyatakan bahwa babirusa cenderung mempunyai daerah jelajah cukup luas mulai dari pantai/dataran rendah, pedalaman, dataran tinggi sampai pegunungan yang sulit dijangkau.  Mengacu pada jenis satwa liar dari family yang sama yakni familia suidae khususnya jenis wart hogs di Zimbabwe yang memiliki daerah jelajah 64-374 Ha (cumming, 1975 dalam Nowak, 1999), maka perkiraan daerah jelajah jenis babirusa dapat diperkirakan, asumsinya adalah daerah jelajah jenis-jenis dari family suidae tidak berbeda secara siginifkan.

Berdasarkan asumsi ini, maka daerah jelajah babirusa di dalam kawasan TNBNW dapat dianggap sama dengan daerah jelajah wart hogs di Zimbabwe. Jika kubangan merupakan salah satu faktor penting bagi babirusa dalam memilih suatu habitat, maka daerah jelajah babirusa dapat di petakan seperti pada Gambar 1. dan 2. Daerah jelajah ini ditentukan dengan menggunakan kubangan babirusa sebagai pusat daerah jelajah. Menurut Orians (1971), bahwa pemilihan habitat suatu satwa sangat ditentukan oleh ketersediaan makanan dan lama waktu yang diperlukan untuk mendapatkan makan an tersebut. Menurut Krebs (1978) dan Alikodra (1990), jika topografi suatu habitat satwa tertentu bergelombang dan derajat kemiringan relatif besar, maka jika ketersediaan makanan menyebar normal dalam wilayah habitat, umumnya satwa akan memilih daerah-daerah yang relatif datar sebagai tempat aktivitas hariannya, hal ini erat kaitannya dengan efisiensi penggunaan energi dari satwa untuk mendapatkan makanan yang cukup (optimal faraging behavior).

Sebagai saran, dalam setiap kegiatan inventarisasi perlu didahului dengan survey pendahuluan sebagai dasar dalam menentukan lokasi penelitian, kemudian perlu adanya peningkatan kemampuan sumberdaya manusia terkait penerapan metode yang tepat dan benar, waktu pelaksanaan inventarisasi satwa harus mencukupi khususnya untuk satwa langka dengan populasi yang cenderung terus menurun, kemudian agar lebih efektif sebaiknya kegiatan inventarisasi tidak dilaksanakan pada saat musim hujan.
















.

Pencarian
Video Terkini
Kategori
Wisata Alam

PEMBINAAN HABITAT MALEO DI AREAL TAMBUN
Selain tindakan pengamanan kawasan yang harus diperketat, pemulihan habitat dan populasi burung Maleo (Macrocephalon maleo) yang ada di kawasan TNBNW sangat perlu dilakukan. Upaya pemulihan tersebut dapat dilakukan melalui Kegiatan Pembinaan Habitat Maleo secara berkala.Pembinaan Habitat Maleo di areal Tambun,…
» selengkapnya

INVENTARISASI BABIRUSA di SPTN I SUWAWA
Dengan Latar Belakang Populasi Babirusa yang diyakini terus mengalami tekanan sebab perburuan dan kerusakan habitat sehingga populasi Babirusa di alam terus menurun, maka kondisi ini harus segera dibenahi dengan melakukan tindakan konservasi yang tepat antara lain dengan melakukan pembinaan habitat…
» selengkapnya

Banner
Program Kegiatan Bogani Nani Wartabone
Lihat Peta Bogani Nani
video
Lokasi Pengunjung