Maleo

Sekitar 45 dari 80 jenis burung yang terdapat dalam kawasan TNBNW merupakan jenis endemik, di mana jenis endemik paling unik adalah burung Maleo(Macrocephalon maleo). Saat ini maleo hanya dapat di temukan di Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Kawasan TNBNW adalah kawasan yang memiliki paling banyak lokasi peneluran maleo.
Burung ini tidak mngerami telurnya melainkan memendamnya di dalam tanah dan di biarkan menetas sendiri oleh panas bumi atau panas pantai. Burung maleo adalah anggota family(rumpun) Megapodidae yang suka membuat gundukan atau juga sering di sebut burung incubator. Burung ini mempunyai bulu hitam dan putih mencolok dengan dada merah jambu, ekor berdiri tegak dan kepala gundul seperti helm yang memiliki benjolan (kapseti). Beberapa penelitian menduga bahwa pungsi dari kapseti ini adalah sebagai “alat” pengukur suhu bagi maleo ketika mereka menggali lubang untuk bertelur, agar mendapatkan suhu lubang peneluran yang tepat untuk dapat menetaskan telurnya. Burung sebesar ayam betina(± 1,6 kg) penghuni hutan ini membiarkan sumber air pans dari luar menetaskan telurnya, pantai-pantai berpasir yang dipanasi matahari, sumber-sumber air panas atau lubang-lubang gunung berapi. Orang mengenal maleo karena telurnya yang besar, diantara jari-jari kaki berselaput. Habitat burung maleo adalah di tempat-tempat dimana terdapat sumber air panas, karena di tempat tersebut maleo bertelur.
Populasi maleo telah mengalami penurunan akibat dari rusaknya habitat dan meningkatnya perburuan telur maleo oleh masyarakat sekitar tempat peneluran. Oleh sebab itu, Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone bekerjasama dengan lembaga mitra yang bergerak di bidang pelestarian satwa liar Sulawesi yaitu Wildlife Conservation Society (WCS) dan Pelestarian Alam Liar Sulawesi (PALS) untuk melakukan penelitian dan pelestarian satwa liar/langka yang ada di kawasan TNBNW, termasuk pelestarian burung maleo, khususnya di lokasi tempat peneluran Tambun dan Muara Pusian di wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Doloduo dan Hongayono di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Suwawa. Kegiatan tersebut meliputi pembuatan bak penetasan, pengumpulan telur, pelepasan burung anakan dan pengamanan habitat tempat peneluran burung maleo serta pengamatan. Di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone terdapat beberapa lokasi tempat peneluran burung maleo utama yaitu: Tambun, Muara Pusian, Matayangan, Milangodaa, dan Hungayono, diamana semua lokasi tersebut terletak di sumber air panas yang sering dikunjungi oleh burung maleo setiap pagi dan sore.
Pada saat mencari tempat untuk meletakkan telur, maleo berbunyi rebut. Burung maleo jantan dan betina bergiliran dalam menggali lubang peneluran dengan cakarnya, mereka bergantian untuk menggali dan berjaga di atas lubang peneluran. Setelah meletakkan telurnya yang umumnya berukuran ± 11 cm dan berat mencapai 240-270 g, lubang ditutup kembali. Burung maleo menggali bebrapa lubang ketika mereka bertelur untukmembungungkan para predator (sebagian orang menduga bahwa beberapa diantara lubang yang di gali tidak di pakai karena suhu atau kelembaban tanahnya tidak sesuai dengan lubang peneluran). Proses keseluruhan ketika maleo bertelur dapat memakan waktu sekitar 6 (enam) jam. Kedalaman lubang peneluran di setiap tempat tidak sama, dimana lubang yang paling dalam yang penah di teliti dan diukur mencapai 1,5m . kisaran suhu dalam lubang berkisar 32-35 drajat Celcius, dimana tiap lubang untuk satu telur. Setelah telur di letakkan dalam lubang setelah itu telur tersebut di timbuni dengan tanah sampai pemukaan, rata dengan tanah sekitarnya. Telur maleo di tinggalkan dalam lubang tampa dierami.
Berdasarkan penelitian, musim maleo bertelur antara bulan Oktober s.d bulan April setiap tahun, dimana detiap betina vertelur hingga ±15 butir telur. Wkatu yang di butuhkan oleh telur sesudah ditanam sampai menetas berkisar antara 60-80 hari. Dalam proses penetasan telur ini terdapat keunikan, dimana anak maleo yang baru menetas sangggup menggali tanah yang menimbuninya sampai ke permukaan. Dari hasil penilitian di ketahui rata-rata anak maleo membutuhkan waktu satu hari untuk dapat keluar dari lubang peneluran, dan setelah anak maleo keluar di permukaan, membutuhkan waktu untuk istirahat selama ±5 menit baru kemudian terbang sejauh ± 15 meter menuju hutan. Makanan burung maleo di dalam hutan terdari dari biji-bijian, serangga, cacing tanah dan siput air.

Pencarian
Bahasa
Indonesia English
Video Terkini
Wisata Alam

PEMBINAAN HABITAT MALEO DI AREAL TAMBUN
Selain tindakan pengamanan kawasan yang harus diperketat, pemulihan habitat dan populasi burung Maleo (Macrocephalon maleo) yang ada di kawasan TNBNW sangat perlu dilakukan. Upaya pemulihan tersebut dapat dilakukan melalui Kegiatan Pembinaan Habitat Maleo secara berkala.Pembinaan Habitat Maleo di areal Tambun,…
» selengkapnya

INVENTARISASI BABIRUSA di SPTN I SUWAWA
Dengan Latar Belakang Populasi Babirusa yang diyakini terus mengalami tekanan sebab perburuan dan kerusakan habitat sehingga populasi Babirusa di alam terus menurun, maka kondisi ini harus segera dibenahi dengan melakukan tindakan konservasi yang tepat antara lain dengan melakukan pembinaan habitat…
» selengkapnya

Kategori
Lokasi Pengunjung
Banner
Program Kegiatan Bogani Nani Wartabone
Lihat Peta Bogani Nani
video