PENGAMANAN HUTAN DI KAWASAN TNBNW

Berbagai tekanan  terhadap kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) yang kerap terjadi, seperti perambahan hutan, penambangan emas tanpa izin (PETI), pencurian kayu dan rotan, perburuan liar tumbuhan dan satwa dilindungi, serta rendahnya kesejateraan masyarakat  disekitarnya, telah memicu laju  degradasi kawasan di  TNBNW. Kegiatan pengamanan kawasan hutan merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan di setiap Unit Pengelola Teknis (UPT) lingkup Kementerian Kehutanan, agar tindakan pelanggaran hukum di kawasan hutan dapat terus diminimalisir.

Organisasi pengamanan hutan yang ada saat ini adalah Polisi Kehutanan (Polhut), Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), dan Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC), sebagai unit satuan tugas yang menangani tindak pidana kehutanan.  Selain itu dalam pelaksanaan tugas perlindungan hutan dan pencapaian sasaran kegiatan pokok pengamanan hutan, Balai TNBNW  dibantu oleh Pam Swakarsa yang telah dibentuk di masing-masing Resort. Partisipasi masyarakat dalam upaya perlindungan dan pengamanan kawasan hutan terlihat dari kesiapan serta semangat mereka menjadi pengaman swakarsa, yang mana tugas dan fungsinya lebih ditekankan pada aspek pengamanan secara preventif dan persuasif.

Salah satu tekanan yang sering terjadi dalam kawasan TNBNW adalah perambahan kawasan, yang mana telah menyebabkan berkurangnya luasan kawasan TNBNW, serta telah menyebabkan hilangnya berbagai jenis flora dan fauna, yang dapat mempengaruhi ekosistem kawasan TNBNW. Terjadinya perambahan di kawasan TNBNW disebabkan oleh berbagai hal, seperti faktor ekonomi, faktor sosial - budaya, dan faktor kondisi lahan.

Faktor Ekonomi, misalnya  :
•    Terbatasnya dana atau modal yang dimiliki ;
•    Terbatasnya sarana &  prasarana produksi ;
•    Kebutuhan pangan yang makin mendesak dan terus meningkat.
•    Faktor Sosial-Budaya, misalnya  :
•    Terbatasnya  keterampilan bidang usaha tani ;
•    Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat di sekitar kawasan
•    Masih kurangnya pembinaan dan penyuluhan terhadap masyarakat sekitar kawasan ;
•    Budaya lingkungan dan adat yang turun temurun dari generasi terdahulu.

Faktor Kondisi Lahan, misalnya :
•    Kondisi lahan peladang  relatif  kurang subur ;
•    Masih luasnya kawasan TNBNW yang bisa dijadikan ladang, terutama pada kawasan yang sulit diawasi.

Kegiatan yang biasanya dilakukan oleh para perambah dalam merambah kawasan TNBNW adalah dengan membuka lahan, memasuki kawasan, merintis, menebang pohon dengan menggunakan alat mesin gergaji rantai, kapak, parang, dan selanjutnya membakar lahan yang akan dijadikan tempat untuk berkebun.

Mekanisme Penanggulangan Perambahan Kawasan

Mekanisme Penanggulangan Perambahan Kawasan yang telah dilakukan antara lain :

a.    Penyuluhan / Sosialisasi.
Penyuluhan / sosialisasi dilaksanakan oleh Polhut, PEH, dan Penyuluh Kehutanan melalui  kunjungan ke rumah-rumah kelompok masyarakat khususnya yang berada disekitar kawasan TNBNW. Kegiatan penyuluhan / sosialisasi merupakan salah satu upaya pendekatan pada masyarakat, dengan harapan agar masyarakat dapat memahami dan peduli dalam menjaga dan melestarikan kawasan TNBNW.

b.    Operasi  Intelijen.
Operasi ini dilaksanakan secara tertutup dan tetap dijaga kerahasiaannya. Sebagai contoh kegiatan nya adalah dengan membuat perkiraan keadaan atas kemungkinan terjadinya gangguan kawasan hutan, mendata para pelaku tindak pidana kehutanan, mendata luas lahan yang telah dan sedang dalam gangguan, serta mengumpulkan bahan dan keterangan yang bersifat rahasia.

c.    Pantroli Rutin
Patroli rutin dilaksanakan secara rutin pada lokasi-lokasi yang dianggap rawan. Sasarannya diarah-kan pada lokasi perambahan kawasan. Dilaksana-kan oleh Polhut secara berregu, rute patroli ditentukan dengan memperhatikan titik rawan ter-jadinya gangguan kawasan serta modus operandi tindak pidana kehutanan, sekaligus memperhat-ikan / memeriksa pal-pal batasnya.

d.    Operasi Fungsional.
Operasi fungsional merupakan operasi  peng-amanan hutan yang dilaksanakan oleh satuan tugas dan satuan unit Polhut dengan jumlah personil tertentu, didukung oleh sarana yang me-madai pada sasaran tertentu dengan target yang sudah ditetapkan. Operasi fungsional dilakukan jika penanganan gangguan kawasan tidak dapat dipecahkan melalui patroli rutin. Sasarannya ditujukan pada perladangan liar yang sudah lama, yang baru terjadi, atau perladangan liar yang sementara di buka / dikerjakan.

e.    Operasi Gabungan.
Operasi gabungan merupakan operasi pengamanan hutan secara gabungan, yang terdiri dari Polhut Balai TNBNW, Polri, TNI, Kejaksaan, Pemda, dll. Operasi gabungan ini diarahkan untuk memecahkan masalah yang tidak dapat diatasi melalui operasi fungsional. Sebelum dilaksana-kan, operasi gabungan ini harus  didahului dengan pengolahan dan penyajian data-data tentang pelaku, modus operandi, otak atau penggerak tindak pidana kehutanan yang telah diperoleh dari operasi intelijen dan atau patroli rutin.

f.    Operasi Khusus & Represif.
Operasi ini dilaksanakan oleh Polhut beserta instansi  lainnya yang terkait. Operasi ini  didahului dengan pengolahan dan penyajian data-data tentang para pelaku, modus operandi, otak atau penggerak tindak pidana kehutanan yang telah diperoleh dari operasi intelijen atau patroli rutin.

g.    Rehabilitasi  Hutan dan Lahan.
Rehabilitasi pada areal perambahan / perladang-an harus dilaksanakan guna membantu  proses suksesi alam. Agar keutuhan dan keaslian ekosis-tem di kawasan TNBNW tetap terjaga, maka ke-giatan reboisasi pada areal perambahan dilakukan dengan menanam jenis tanaman lokal, dimana dalam pelaksanaannya reboisasi tersebut dilakukan dengan melibatkan masyarakat, Pemerintah Daerah, dan TNI.

h.    Koordinasi dengan Pihak Terkait.
Dalam rangka menanggulangi dan mengendalikan perambahan di TNBNW, kerjasama antar instasi terkait baik ditingkat Kecamatan, Kabupaten, maupun Propinsi, sangat diperlukan guna menyamakan persepsi, memantapkan perencanaan, serta monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan dimaksud.  Untuk memecahkan masalah yang sifatnya khusus, kordinasi dengan para pihak terkait bisa dilaksanakan secara khusus pula sesuai kebutuhan dan keadaan.  Dalam koordinasi khusus, peserta yang mengikuti koordinasi merupakan pejabat dan instansi yang sangat terbatas.

i.    Penerapan Sanksi Hukum.
Penerapan sanksi hukum terkait perambahan kawasan TNBNW ditempuh dengan menyelesai-kan kasus-kasus hukum terhadap para pelaku dan barang bukti yang ditemukan. Penerapan sanksi ini dilaksanakan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang ada di Balai TNBNW, serta  berkoordinasi dengan Polri selaku Koordinator Pengawas (Korwas).
Kondisi Yang Diharapkan :

Kondisi Ekologi  :
•    Terjaganya keutuhan/kelestarian ekosistem yang ada di kawasan TNBNW ;
•    meningkatnya upaya pengelolaan keanekaragaman hayati di kawasan TNBNW.

Kondisi Sosial Ekonomi :
•    Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam upaya pengelolaan TNBNW ;
•    Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap upaya KSDAH dan Ekosistemnya yang ditandai dengan penurunan pelanggaran hukum ;
•    Meningkatnya aktivitas ekonomi yang berbasiskan konservasi.
•    Meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang berada di sekitar kawasan TNBNW melalui pengembangan pariwisata alam ;

Koordinasi Kelembagaan :
•    Meningkatnya kualitas jalinan kerjasama dengan instansi pemerintah di tingkat Propinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa, dalam upaya pengelolaan TNBNW ;
•    Meningkatnya kualitas jalinan kemitraan antara Balai TNBNW dengan Lembaga Swadaya Masyarakat yang ada di Propinsi, Kabupaten / Kota, Kecamatan, dan Desa yang menaruh perhatian terhadap pengelolaan TNBNW ;
•    Meningkatnya kualitas jalinan kerjasama dengan berbagai sektor swasta yang melakukan usaha di sekitar kawasan TNBNW ;
•    Meningkatnya kualitas sumber daya manusia  sebagai pengelola TNBNW  melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan.

Penulis : Jori Liuw
Editor : Taufik Hamzah.

Pencarian
Bahasa
Indonesia English
Video Terkini
Wisata Alam

PEMBINAAN HABITAT MALEO DI AREAL TAMBUN
Selain tindakan pengamanan kawasan yang harus diperketat, pemulihan habitat dan populasi burung Maleo (Macrocephalon maleo) yang ada di kawasan TNBNW sangat perlu dilakukan. Upaya pemulihan tersebut dapat dilakukan melalui Kegiatan Pembinaan Habitat Maleo secara berkala.Pembinaan Habitat Maleo di areal Tambun,…
» selengkapnya

INVENTARISASI BABIRUSA di SPTN I SUWAWA
Dengan Latar Belakang Populasi Babirusa yang diyakini terus mengalami tekanan sebab perburuan dan kerusakan habitat sehingga populasi Babirusa di alam terus menurun, maka kondisi ini harus segera dibenahi dengan melakukan tindakan konservasi yang tepat antara lain dengan melakukan pembinaan habitat…
» selengkapnya

Kategori
Lokasi Pengunjung
Banner
Program Kegiatan Bogani Nani Wartabone
Lihat Peta Bogani Nani
video