Pembentukan dan Pelatihan Masyarakat peduli Api (MPA) di Balai TNBNW

Berdasarkan INPRES RI No. 16 tahun 2011, tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Kementerian Kehutanan mendapat beberapa instruksi dari Presiden Republik Indonesia, DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono, yang mana salah satu instruksi tersebut adalah agar Kementerian Kehutanan meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia pengendali kebakaran hutan (Manggala Agni).


Berkenaan dengan hal itu, maka pada tanggal 21 Juni 2011, Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) menyelenggarakan kegiatan Pelatihan dan Pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA), yang diikuti oleh 60 (enam puluh) peserta dari beberapa desa disekitar kawasan TNBNW, yang mana acara tersebut secara langsung dibuka oleh  Wakil Bupati Bolaang Mongondow, Yani R. Tuuk, S.Th.


Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bolaang Mongondow Yani R. Tuuk, S.Th, menyampaikan bahwa kebakaran hutan yang terjadi selama ini disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Sebagai contohnya adalah pembukaan dan penyiapan lahan milik/kebun dengan cara dibakar, sehingga merambat dalam kawasan hutan, atau penyiapan lahan oleh para perambah hutan dengan cara dibakar, serta pembakaran kawasan hutan secara sengaja oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab.


Beliau menambahkan bahwa kebakaran hutan tidak hanya berdampak pada hilangnya berbagai jenis flora dan fauna saja, namun lebih jauh lagi berdampak pada bencana alam seperti banjir bandang dimusim hujan dan kekeringan dimusim kemarau. Hal ini menunjukkan bahwa resiko yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan khususnya dalam konteks ekologi sangatlah kompleks, oleh karena itu membutuhkan penanganan yang serius dan terencana.


Dalam kegiatan tersebut, Kepala Balai TNBNW, Ir. Agustinus Rante Lembang, M.Si, menyampaikan materi tentang Pengelolaan TNBNW dan Pengetahuan Dasar Kebakaran Hutan. Beliau menyampaikan bahwa kebakaran hutan dapat terjadi karena 3 unsur, yaitu adanya benda yang terbakar, temperatur (panas), dan udara (oksigen). Jika  salah satu unsur tersebut tidak terpenuhi, maka kebakaran tidak akan terjadi. Beliau menjelaskan, bahwa berdasarkan sumber apinya kebakaran hutan terbagi menjadi 3 jenis yaitu kebakaran permukaan, kebakaran tajuk, dan kebakaran bawah seperti yang terjadi pada hutan gambut.


Kepala Seksi Program pada Sub Direktorat Program dan Evaluasi Pengendalian Kebakaran Hutan, Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan, Ditjen PHKA, Johny Santoso, S.Hut, M.Agr, yang merupakan salah satu pemateri dalam acara tersebut, menyampaikan tentang dampak dari kebakaran hutan dan lahan, salah satu dampaknya adalah kepulan asap yang ditimbulkan sangat mengganggu & merugikan kesehatan, mengganggu arus lalulintas darat, laut, dan udara, sampai akhirnya mendatangkan protes dari negara - negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.


Dalam kesempatan itu, beliau menyampaikan materi tentang Pengenalan & penggunaan alat pemadam hebakaran hutan; Teknik & pola penanggulangan kebakaran hutan secara dini; Pemadaman kebakaran hutan; serta praktek penggunaan alat-alat pemadam kebakaran hutan. Beliau menghimbau para peserta pelatihan agar dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan tidak terhambat oleh kurangnya alat-alat yang tersedia, beliau menekankan bahwa lebih baik mencegah kebakaran hutan daripada memadamkannya, karena jika telah terjadi kebakaran maka kerugian dialami jauh lebih besar, serta memadamkannya juga sangat sulit dan melelahkan.


Dalam kegiatan tersebut, beliau juga memperkenalkan serta memperagakan beberapa alat yang bisa digunakan dalam pemadaman seperti, Cangkul, Skop, Garu, Pompa, jet shutter, dan Gepyok. Beliau mengajak para peserta pelatihan untuk mempraktekkan secara langsung materi yang telah disampaikannya. Sebagai simulasi, tepatnya disekitar Komplek Perumahan Cikeas, para panitia kegiatan mempersiapkan lahan yang dipenuhi pelepah kelapa sebagai areal kebakaran, setelah tumpukan pelepah tersebut dibakar dan api telah membesar, maka para peserta serentak menuju lokasi tersebut untuk memadamkannya dengan tata cara pemadaman yang telah disampaikan dalam materi sebelumnya.  t4uf1k_hz

Pencarian
Video Terkini
Kategori
Wisata Alam

PEMBINAAN HABITAT MALEO DI AREAL TAMBUN
Selain tindakan pengamanan kawasan yang harus diperketat, pemulihan habitat dan populasi burung Maleo (Macrocephalon maleo) yang ada di kawasan TNBNW sangat perlu dilakukan. Upaya pemulihan tersebut dapat dilakukan melalui Kegiatan Pembinaan Habitat Maleo secara berkala.Pembinaan Habitat Maleo di areal Tambun,…
» selengkapnya

INVENTARISASI BABIRUSA di SPTN I SUWAWA
Dengan Latar Belakang Populasi Babirusa yang diyakini terus mengalami tekanan sebab perburuan dan kerusakan habitat sehingga populasi Babirusa di alam terus menurun, maka kondisi ini harus segera dibenahi dengan melakukan tindakan konservasi yang tepat antara lain dengan melakukan pembinaan habitat…
» selengkapnya

Banner
Program Kegiatan Bogani Nani Wartabone
Lihat Peta Bogani Nani
video
Lokasi Pengunjung