Selamatkan DAS Ongkag Dumoga dan Mongondow

Hampir setiap saat berbagai media menyuguhkan berita tentang upaya penyelamatan bumi melalui penanaman lahan hutan yang kritis serta berbagai bentuk pertemuan guna mendapatkan solusi penanggulangan kerusakan bumi. Dalam skala nasional kerap disuguhkan pula berbagai berita bencana alam yang tidak henti-hentinya melanda bumi persada Indonesia.
Mulai dari yang  terdahsyat Tsunami, letusan gunung merapi, hingga banjir yang bergantian melanda berbagai daerah, sungguh ironis ketika sebagian manusia mengatakan bahwa bencana adalah kehendak Allah SWT tanpa memikirkan keserakahan yang telah diperbuatnya, padahal kerusakan yang terjadi dimuka bumi ini tiada lain merupakan akibat dari perbuatan tangan-tangan manusia.
Jika mengingat 21 tahun silam, masih terbayang dengan jelas bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) Ongkag Mongondow dan Ongkag Dumoga merupakan hutan belantara, punggung pegunungan daerah Lolayan yang berbatasan dengan Pantai Selatan benar-benar masih rimbun sebagai daerah tangkapan air (catcment area). Ongkag Mongondow masih jernih, masih dihuni ikan-ikan Tawes yang bisa ditangkap hanya dengan umpan daun jagung saja, fungsi DAS pun masih terjaga sebagai penyeimbang siklus hidrologi. Sehingga jika curah hujan tinggi maka tidak perlu khawatir banjir besar akan datang, demikian pula pada saat kemarau, debit sungai tidak khawatir akan berkurang secara ekstrim. Land cover DAS Ongkag Mongondow sebagian besar (34.6 %) merupakan pegunungan / perbukitan, dataran yang berada di sekitar aliran sungai merupakan sawah (24.8 %), Tegalan (33.6 %), pemukiman (7 %), yang secara umum masih seimbang.
Daerah tangkapan air DAS Ongkag Mongondow berasal dari puncak Gunung Poniki (1817 M), Gunung Mogonipa, Gunung Bobungayon (1209 M), Gunung Ambang (1780 M), Gunung Lembut (1568 M) dan Gunung Gemantang (1238 M). Sementara hulu sungai Ongkag Mongondow berada di Gunung Bobungayon dengan ketinggian 800 M dpl yang melintasi desa-desa di Kecamatan Lolayan, Kota Kotamobagu, dan Kecamatan Pasi yang bergabung dengan Sungai Ongkag Dumoga mendekati muara  Pantai Inobonto.
Sungai Ongkag Mongondow mempunyai beberapa anak sungai, antara lain Sungai Kotulidan yang berhulu di Kecamatan Pasi, dan Sungai Moayat yang berasal dari Gunung Ambang / Kuala Putih. Pada masa DAS Ongkag Mongondow masih terjaga, banjir besar tak pernah terjadi, berbeda dengan sekarang, sepanjang pegunungan Bungko, Bakan, Matali Baru, Mengkang Lingontuk, Kinali, yang sudah beralih fungsi menjadi kebun, maka tak heran jika banjir besar datang setiap waktu. Akhir tahun 80-an merupakan awal dari perubahan fungsi DAS Ongkag Mongondow, terutama sejak ditemukannya emas di perbukitan Tanoyan hingga pegunungan Bobungayon. Saat itu, seiring dengan kebutuhan bukan primer dikalangan masyarakat, maka ditingkatkanlah ekploitasi sumber daya yang ada dengan alasan untuk kepentingan umum, pembabatan hutan untuk membangun gedung sekolah, Avocet yang mulai merambah pegunungan Bakan dan Tanoyan, membedah perut bumi dengan cara peledakan, dengan alasan meningkatkan devisa Negara, dan sebagainya.
Banjir bandang pada tahun 2006 dan tahun 2011 (awal Juli) yang melanda desa-desa di Kecamatan Lolayan, terbukti telah membawa material batu, pasir, kerikil, dan gelondongan kayu, hal ini menjadi signal bahwa kondisi DAS Ongkag Mongondow sudah kritis. Banjir Return Period yang biasanya terjadi setiap puluhan tahun, kini hanya sekian tahun kembali terjadi, padahal musim kemarau baru sekitar seminggu terjadi di Bolaang Mongondow,  turunnya hujan pun baru dua hari dan tidak begitu deras, tetapi banjir sudah memasuki daerah pemukiman, hal ini mengabarkan bahwa alam sudah tidak seimbang dan memerlukan upaya untuk menyeimbangkannya kembali.

Allah menciptakan alam dan isinya dengan konsep keseimbangan, alam diciptakan untuk diberdayakan bukan untuk dirusak, maka demi kebaikan semua pihak, DAS Ongkag Mongondow harus segera dipulihkan, Jika DAS Ongkag Mongondow tidak segera dipulihkan, maka tidak mustahil 5 tahun ke depan banjir bandang terjadi setiap tahun, yang akan merasakan langsung akibatnya adalah masyarakat disepanjang DAS serta desa-desa yang berada di kaki bukit DAS Ongkag Mongondow, untuk itu perlu diambil langkah berupa :
a.    Komitmen kuat dalam merehabilitasi punggung DAS Ongkag Mongondow, misalnya melalui “Gerakan Sejuta Nantu untuk DAS Ongkag Mongondow dan DAS Ongkag Dumoga”, “Gerakan Nantu 10 in 1’’ atau dengan meng- ajak para petani menanam minimal 10 pohon Nantu untuk setiap hektar kebunnya, dan sebagainya. Dengan demikian dua puluh tahun kedepan masyarakat tidak lagi harus kucing-kucingan dengan para petugas jika membutuh- kan hasil hutan kayu. Sehingga kawasan TNBNW tetap lestari.
b.    Bagi para penambang emas, terutama para penambang illegal dalam kawasan TNBNW harus segera ditangani dan diatasi, karena jelas telah merusak kawasan, pembuatan acces road sepanjang puluhan kilometer ditambah area penambangan terbuka, telah mengorbankan ratusan hektar DAS Ongkag Mongondow, keadaan seperti ini lebih diperparah dengan perubahan fungsi kawasan menjadi menjadi kebun dan pengkaplingan lahan.
c.    Perlu ditekankan kewajiban bagi setiap pengusaha kayu diluar kawasan TNBNW,  untuk mewujudkan ‘’environt care’’ melalui dana peduli lingkungan, selama ini hanya baru diterapkan pada industri besar berupa community care yang belum fokus menyentuh lingkungan. Bagi pengusaha yang mendapat izin pemanfaatan hasil hutan dari luar pengelola kawasan konservasi, padahal hasil hutannya berasal dari kawasan Konservasi maka harus segera ditertibkan dan ditindak dengan aturan-aturan yang berlaku, begitu juga bagi yang mengeluarkan ijin pemanfaatannya.
d.    Pemerintah dalam hal ini Balai TNBNW bersama Dinas Kehutanan harus tegas menerapkan aturan mengenai hutan mana yang boleh untuk diproduksi, harus diterapkan juga aturan tentang jenis tanaman untuk setiap kemiringan tanah. untuk daerah dengan kemiringan tanah terjal - sedang yang hanya  ditanami jenis tanaman tahunan, tidak boleh tanaman bulanan, hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya pengerusan permukaan tanah, jika hal ini terus terjadi maka lama-lama lapisan humus akan habis, jika demikian maka erosi hanya tinggal menunggu waktu saja.
Sudah saatnya pemerintah, pengusaha, petani dan masyarakat umumnya memikirkan dan bergerak memperbaiki kondisi DAS Ongkag Mongondow dan  DAS Ongkag Dumoga, Lolayan Ayong, Sangkub, Bolangitang dan Pantai Selatan Bolaang Mongondow. Lebih khusus menyelamatkan Kawasan TNBNW, jangan sampai terlambat.
Tulisan ini tanpa bermaksud mengkambing hitamkan atau memprovokasi siapapun, hanya sebagai bentuk ‘’care’’ terhadap Bolaang Mongondow.

Pencarian
Bahasa
Indonesia English
Video Terkini
Wisata Alam

PEMBINAAN HABITAT MALEO DI AREAL TAMBUN
Selain tindakan pengamanan kawasan yang harus diperketat, pemulihan habitat dan populasi burung Maleo (Macrocephalon maleo) yang ada di kawasan TNBNW sangat perlu dilakukan. Upaya pemulihan tersebut dapat dilakukan melalui Kegiatan Pembinaan Habitat Maleo secara berkala.Pembinaan Habitat Maleo di areal Tambun,…
» selengkapnya

INVENTARISASI BABIRUSA di SPTN I SUWAWA
Dengan Latar Belakang Populasi Babirusa yang diyakini terus mengalami tekanan sebab perburuan dan kerusakan habitat sehingga populasi Babirusa di alam terus menurun, maka kondisi ini harus segera dibenahi dengan melakukan tindakan konservasi yang tepat antara lain dengan melakukan pembinaan habitat…
» selengkapnya

Kategori
Lokasi Pengunjung
Banner
Program Kegiatan Bogani Nani Wartabone
Lihat Peta Bogani Nani
video