Kondisi Umum

 

Letak Kawasan

Secara administratif kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone berada pada dua wilayah kabupaten dan dua wilayah propinsi yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow, Propinsi Sulawesi Utara dan Kabupaten Bone Bolango, Profinsi Gorontalo.

Luas Kawasan

Luas kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone seluruhnya 287.115 hektar, dengan perbandingan 117.115 hektar(62,32%) berada di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow di bagian timur dan 110.000 hektar(37,68%) masuk dalam wilayah Kabupaten Bone Bolango di bagian barat.
Secara geografis Taman Nasional Bogani Nani Wartabone terletak pada garis lintang antara 0?.20’ – 0?.51’ Lintang Utara(LU) dan 123?.06’ – 124?.18’ Bujur Timur (BT). Jika dilihat pada peta kawasan maka Taman Nasional Bogani Nani Wartabone(TNBNW) terletak memanjang dari timur ke barat persis pada rantai pengembangan yang ada di dua daerah ini.

Iklim

Keadaan iklim di wilayah kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone menurut Schmidt dan Ferguson termasuk dalam tipe A, B dan C. Curah hujan emumnya tersebar merata sepanjang tahun dengan periode relatif basah antara bulan November-Januari dan Maret-Mei. Masa kering antara bulan Agustus-September. Angin dan topografi yang bergunung di wilayah ini sering mempengaruhi curah hujan local terutama jumlah total hujan meskipun dalam jarak dekat. Sebagai contoh di wilayah bagian tengah dan antara (Dumara dan Toraut) curah hujannya tinggi karena pengaruh angin timur laut sedangkan di wilayah Doloduo dan Kosinggolan relatif lebih kering karena pengaruh angin barat daya. Secara umum di lembah Damoga curah hujan rata-rata antara 1.700-2.200 mm pertahun, sedangkan di wilayah Gorontalo rata-rata 1.200 mm pertahun. Adapun suhu udara rata-rata antara 20?-28? C.

Peta

klik peta utuk melihat ukuran aslinya atau klik di bawah ini untuk melihat peta melalui google map.

Topografi

Keadaan topografi di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone sangat beragam mulai dari datar, bergelombang ringan sampai berat maupun berbukit terjal dengan ketinggian berkisar antara 50 s/d 1.970 meter di atas permukaan laut(dpl). Bentang alam kawasan TNBNW mulai dari dataran hingga pegunungan memiliki klasifikasi sebagai berikut :
• Bentang alam datar, kemiringan 0-8%
• Bentang alam berombak, kemiringan 8-15%
• Bentang alam bergelombang, kemiringan 15-25%
• Bentang alam bukit, kemiringan 25-45%
• Bentang alam bergunung, kemiringan > 45%
Kondisi topografi kawasan berhutan yang bergelombang yaitu berbukit berlembah serta memiliki kelerengan lebih dari 45% menjadikan fungsi kawasan taman nasional sebagai daerah pengatur tata air(fungsi hidrologis) serta menjadi sumber air lahan pertanian seluas ± 10.815 ha di sekitarnya dan sebagai penahan terjadinya bencana banjir pada daerah hilir.
Di bagian tengah kawasan ini terletak G. Sinombayuga yang merupakan puncak tertinggi (±1.970 m) membujur dari arah Utara – Selatan yang sekaligus membelah jaringan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bone dan Dumoga. Gunung – gunung yang lain G. Pau-Pau (±1.921 m) dan G.gambuta(±1.954 m) membentuk batas utara DAS Bulango; G.Pinonompusa(±1.420 m), G.Renga(±1.740 m) dan G. Sulo(±1.750 m) membelah jaringan wilayah Bone dan Sangkup serta G. Ali (± 1.495 m) antara Bone dan Bone Pantai. Beberapa gunung yang lerengnya mengarah ke Sungai Kosinggolan di Kab. Bolaang Mongondow yaitu G. Sinombayuga (± 1.970 m), G. Poniki (±1.817 m), dan G.pdang (±1.370 m).

Tanah

Tanah dalam kawasan TNBNW terutama berasal dari bahan vulkanis seperti di jumpai di bagian Timur dan Tengah dan sebagian asam seperti di daerah Bone. Tanahnya berasal dari kapur dengan penyebaran hampir di semua formasi geologi. Kawasan serupa ini tidak banyak terlihat dalam peta biasanya kecil dan atau merupakan bahan lain. Tanah berasal dari bahan sedimen di jumpai di bagian utara dan selatan Dumoga. Formasi kaolin yang merupakan bahan keramik dapat dijumpai di daerah Molibagu. Jenis tanah yang terdapat di kawasan ini antara lain lotosol, podsofil, renzina, alluvial dan andosol.

Geologi

Secara geologi kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone erat hubungannya dengan pembentukan pilat(lempengan) Australia/Papua dengan lempengan Asia yang terjadi sekitar 15-25 juta tahun yang lalu. Sebagian lempengan Australia/Papua bergerak menuju utara yang dimulai sekitar 45 juta tahun yang lalu dan melengkung di bawah dasar kristalin Asia dengan kecepatan beberapa sentimeter setahun dan menyebabkan pergerakan vulkanik dan tektonis yang kuat.
Formasi vulkanis yang tertua dengan batuan vulkanis dasar terdapat di sebelah timur dan selatan lembah Dumoga dan membentuk rangkaian pegunungan ke pantai utara di Labuan Uki. Sedang di bagian selatan Gunung Mogogonipa serta membentuk gunung-gunung kecil yang terdiri dari batuan lava, konglomerat dan breccia. Lembah utama termasuk Bone, Pinogu, Dumoga, dan Mongondow hulu berarah timur barat, bersama lembah retakan sempit sungai-sungai di Mongilo(jaringan Bolango).

Aksesibilitas

Secara umum sarana perhubungan darat TNBNW sudah teredia dengan keadaan baik. Pintu masuk menuju TNBNW dari arah Manado adalah Manado-Kotamobagu-Doloduo-Toraut. Sedangkan dari arah Gorontalo adalah dengan rute Gorontalo-Lombongo. Rute rincinya adalah sebagai berikut :
a. Doloduo dicapai melalui rute Manado-Kotamobagu-Doloduo; rute ini mempunyai jarak sekitar 260 km dengan kondisi jalan darat yang baik sehingga dapat di tempuh dengan kendaraan darat sekita 3-4 jam.
b. Lombongo dapat dicapai melalui alternatif rute, yaitu:
- Rute Manado-Doloduo-Molibagu-Lombongo jalan melalui pantai selatan dengan jarak sekitar 450 km, kondisi jalan sangat baik, dapat di tempuh dengan kendaraan darat sekitar 7-9 Jam.
- Rute Manado-Gorontalo-Lombongo jalan melalui pantai utara dengan jarak sekitar 530 km, kondisi jalan baik, waktu tempuh sekitar 9-10 jam dengan kendaraan darat.

Pencarian
Bahasa
Indonesia English
Video Terkini
Wisata Alam

PEMBINAAN HABITAT MALEO DI AREAL TAMBUN
Selain tindakan pengamanan kawasan yang harus diperketat, pemulihan habitat dan populasi burung Maleo (Macrocephalon maleo) yang ada di kawasan TNBNW sangat perlu dilakukan. Upaya pemulihan tersebut dapat dilakukan melalui Kegiatan Pembinaan Habitat Maleo secara berkala.Pembinaan Habitat Maleo di areal Tambun,…
» selengkapnya

INVENTARISASI BABIRUSA di SPTN I SUWAWA
Dengan Latar Belakang Populasi Babirusa yang diyakini terus mengalami tekanan sebab perburuan dan kerusakan habitat sehingga populasi Babirusa di alam terus menurun, maka kondisi ini harus segera dibenahi dengan melakukan tindakan konservasi yang tepat antara lain dengan melakukan pembinaan habitat…
» selengkapnya

Kategori
Lokasi Pengunjung
Banner
Program Kegiatan Bogani Nani Wartabone
Lihat Peta Bogani Nani
video